Rusun, Solusi Pengungsi Sinabung







Di sudut tenda pengungsi, seorang anak bertanya pada Ibu-nya: “Nde, ndigan kita mulih ku kuta?  (baca : Ma, kapan kita pulang ke rumah?). Hampir 3 (tiga) tahun, muncul ribuan pertanyaan dari anak-anak pengungsi Sinabung kepada orang tua, kapan, kenapa, kemana, dll.

Pertanyaan tersebut hanya dijawab dengan harapan yang besar kepada Sang Pencipta dan pemerintah yang turut membantu perubahan nasib pengungsi Sinabung ke depan. Dulu, di bawah kaki Sinabung merupakan tanah yang subur. Seperti lagu, apapun yang dilempar akan tumbuh dan berbuah.

Namun, sekarang hanya butiran debu vulkanik yang bertebaran di lima kilometer serta puing-puing reruntuhan rumah yang serangga pun enggan menempatinya. Hampir 30 ribu pengungsi menggantungkan hidup mereka kepada pemerintah dan tangan-tangan donatur.

Sebagai anak yang terlahir di Tanah Karo dan sebagian besar keluarga tinggal di sana, merasa bencana ini sebagai beban berat yang harus dipikul setiap hari. Tak tahu sampai kapan derita yang dialami para pengungsi harus berakhir. Di tambah dengan pertikaian sesama Suku Karo terjadi dikarenakan relokasi pengungsi.
Tidak ada lagi rasa ingin berbagi, rasa membantu dan rasa empati antara sesama Suku Karo. Mungkin,erupsi terlalu lama sehingga banyak rasa yang baik harus terkikis. Masyarakat Karo sudah mulai bosan dengan bencana yang tidak tahu di mana ujungnya.



Rumah, harta, lahan sampai ternak semuanya hilang.  Ribuan rumah terpendam abu vulkanik. Penopang utama kehidupan warga tidak berfungsi lagi. Butuh waktu yang sangat lama untuk mengembalikan kehidupan warga yang hampir seluruhnya adalah petani ke kondisi sebelum letusan.




Sejak 1913, dataran tinggi Karo merupakan pusat budidaya berbagai jenis sayuran dan produk holtikultura. Ekspor sayuran dan buah sampai ke Malaysia dan Singapura. Namun, sekarang tanah subur mengalami perubahan secara fisik, kimia dan biologi.



Di samping itu, erupsi Gunung Sinabung menyebabkan perubahan baik sumberdaya lahan maupun infrastruktur pertanian di sekitar 8 (delapan) desa. Kerusakan infrastruktur pertanian disebabkan oleh aliran lahar dingin yang merusak saluran irigasi, lahan pertanian dan lainnya.

Di samping itu, lahar dingin menyebabkan minimnya jumlah ketersediaan air untuk pertanian, peternakan dan kebutuhan air rumah tangga. Infrastruktur berupa jaringan pipa air pun tak lagi ditemui, tenggelam bersama abu vulkanik.

Sekarang para petani tidak dapat lagi mengais rezeki melalui lahan yang dulunya subur berubah mejadi abu vulkanik. Tidak ada lagi fasilitas infrastruktur yang mendukung dan ekstrimnya desa tempat tinggal tidak dapat lagi di huni mungkin dalam jangka waktu yang sangat lama.




Apakah mungkin para petani harus pensiun dini, harus selalu hidup di tenda pengungsi dan melawan dinginnya udara karena akhir-akhir ini cuaca kurang bersahabat. Mereka butuh relokasi, butuh rumah untuk berteduh dan berbagai infrastruktur untuk memperbaiki perekonomian yang sudah terpuruk selama 3 (tiga) tahun ini.




Pasca bencana erupsi Sinabung, pemulihan lahan dan pengungsi dilakukan secara sinergis antara pemerintah, masyarakat dan dunia usaha berupa relokasi. Relokasi merupakan gagasan menata ulang kembali lokasi pemukiman. Di mana relokasi ini bertujuan sebagai upaya penanggulangan bencana untuk meminimalisasi korban apabila terjadi lagi bencana di kemudian hari.

Di samping itu, relokasi dilakukan untuk kembali memulihkan secara perlahan perekonomian masyarakat Karo yang terkena dampak bencana Gunung Sinabung. Ribuan anak-anak harus menyelesaikan pendidikannya khususnya siswa SD dan SMP.



Pemerintah beserta TNI sudah mengupayakan relokasi pertama yaitu relokasi Siosar untuk sekitar 370 Kepala Keluarga (KK) dari tiga desa yaitu Simacem, Bekerah dan Sukameriah. Di samping itu, masyarakat Karo korban Sinabung juga diberikan lahan pertanian untuk membangkitkan aktivitas perekonomian dan budaya.



Namun, jika dilihat dari relokasi tahap II di Desa Lingga tidak berjalan dengan baik bahkan memakan korban dalam peristiwa relokasi ini. Alhasil, relokasi dan pembangunan infrastruktur untuk sementara diberhentikan.



Melihat kegagalan dan tantangan dari relokasi tahap II, maka sudah seharusnya pemerintah melakukan plan B. Sebagai masyarakat yang hidup di tengah Suku Karo maka saya menyarankan agar dibangunnya RUSUN sebagai solusi pengungsi Gunung Sinabung.

Kata ‘Rusun’ mungkin tidak asing bagi masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan seperti Jakarta. Namun, rusun menjadi asing saat dihadapkan dengan daerah seperti Tanah Karo. Menurut Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang No 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun, defenisi Rumah Susun adalah :

“Bangunan gedung bertingkat yang dibangung dalam suatu lingkungan, yang terbagi dalam bagian-bagian distrukturkan secara fungsional dalam arah horizontal maupun vertical dan merupakan satuan-satuan masing-masing dapat dimiliki dan digunakan secara terpisah, terutama tempat hunian, yang dilengkapi dengan bagian-bersama, benda-bersama dan tanah bersama”



Identiknya rusun dibangun apabila suatu daerah tidak memiliki lahan yang cukup luas, sehingga rusun adalah pilihan yang tepat untuk menampung banyak keluarga yang tidak memiliki tempat tinggal. Lain halnya di daerah, yang masih memiliki banyak lahan untuk membangun perumahan seperti Tanah Karo.

Bercermin dari relokasi tahap pertama di Siosar, lahan yang dibuka seluas 30 Ha sedangkan jumlah jumlah pengungsi yang akan direlokasi sebanyak kurang lebih 1700 KK dari 3 (tiga) desa radius 3 km dari Gunung Sinabung. Jumlah perumahan yang baru selesai kurang lebih 370 rumah, sedangkan sisanya masih menunggu antrian di tenda pengungsian.

Namun, fenomena ini menjadi berubah ketika pemerintah membangun rumah susun untuk para pengungsi. Sehingga sisa lahan yang luas dapat dimanfaatkan untuk pertanian dan membangun infrastruktur lainnya dalam rangka menunjang perekonomian dan kehidupan sosial para pengungsi.



Siwaluh Jabu artinya 8 (delapan) keluarga. Secara sederhananya Siwaluh Jabu dapat didefenisikan sebagai rumah/tempat tinggal yang dihuni 8 keluarga. Sama halnya dengan rumah susun, di mana dalam satu bangunan atau gedung dapat dihuni lebih dari 1 (satu) keluarga.

Dari sisi adat, budaya dan sosial dengan adanya rumah susun untuk pengungsi Sinabung berarti menambah rasa kebersamaan/kekeluargaan dan tolong menolong. Untuk formula yang tepat dalam membangun rumah susun di Tanah Karo, Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dapat mencontoh rumah adat Siwaluh Jabu dari segi penataan. Untuk infrastruktur dan peruntukkan dapat disamakan dengan pembangunan rumah susun pada umumnya.
Selain efektif dan efisien, pembangunan rumah susun juga menghabiskan dana yang lebih kecil dibanding dengan pembangunan perumahan. Di samping itu, berikut beberapa fasilitas/infrastruktur di sekitar rumah susun yang diharapkan dari pengungsi Sinabung untuk melanjutkan kehidupan yang lebih baik adalah:
Lahan Pertanian;

1. Irigasi;

2. Pembangunan pipa air bersih;

3. Pembangunan sekolah untuk siswa Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP);

4. Pembangunan jalan menuju tempat relokasi;

5, Rumah Ibadah;

6. Kantor Pemerintahan setingkat desa;

7. Jambur/Pendopo/Aula tempat berkumpul atau acara adat;

8. Drainase;

9. Listrik;

10.Terminal.

Hadirnya rumah susun membantu ribuan pengungsi yang mulai lelah hidup di tenda. Sebagian besar keluarga yang tinggal di sana mulai mengeluh dengan pemerintah yang belum memberikan solusi terhadap nasib ribuan pengungsi.

Wacana rumah susun untuk para pengungsi dapat menjadi nyata, terkhusus dalam rangka Pekan Sains dan Teknologi, dapat menjadi masukan untuk melakukan inovasi pembangunan di daerah terkena bencana khususnya erupsi Gunung Sinabung.

Ketika rumah susun dibangun, sisa lahan yang cukup besar dapat dimanfaatkan menjadi lahan pertanian, agar perekonomian masyarakat bangkit dan kembali menghasilkan sayur, buah serta hasil holtikultura yang merajai di dunia ekspor. Infrastruktur terbangun, perekonomian bangkit, masyarakat Karo sejahtera…





4 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.

BP

WB

KEB