Keluarga, Sekolah Kejujuran Pertama






[ KELUARGA ADALAH SEKOLAH KEJUJURAN PERTAMA ]

Keluarga merupakan sekolah pertama dalam kehidupan. Orang tua adalah tenaga pengajar yang dapat ditemui setiap saat. 


Bagaimana perilaku seorang anak kelak merupakan tanggung jawab awal dari orang tua. Oleh karena itu, peran keluarga menjadi sangat penting dalam menentukan kemajuan sebuah bangsa. 


Anak-anak akan bertumbuh menjadi dewasa dan akan memimpin Negara ini melalui sektor-sektor yang ada. Namun, akan menjadi kacau apabila peran keluarga tidak maksimal dalam membimbing anak dengan baik. 


Nilai-nilai dasar sudah sepatutnya diperkenalkan di tengah keluarga. Salah satu nilai yang harus ditanamkan sedini mungkin adalah KEJUJURAN


Kejujuran merupakan modal dasar tumbuh kembang anak untuk dapat berperilaku baik di masa yang akan datang. Ketika anak setiap hari diberi stimulus tentang kejujuran, maka lama-kelamaan kejujuran akan menjadi sebuah karakter seorang anak. 


Bentuk-bentuk stimulus kejujuran  kecil yang ditanamkan pada anak adalah:


1. Mendorong anak untuk mempersiapkan ujian dengan baik, sehingga pada saat ujian anak tidak berusaha untuk menyontek.


2. Saling terbuka kepada anak sehingga mengerti kebutuhan dan masalah yang dihadapi sang anak sehingga anak tidak melakukan kecurangan/kebohongan.


3. Menjadi patner anak dalam setiap waktu agar anak tidak merasa sendiri dalam memecahkan sebuah masalah atau mencari jalan lain yang negatif.    
  

4. Mendorong anak untuk belajar berbagi dan peka terhadap lingkungan sekitar.


5. Sedini mungkin anak dapat mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak patut untuk dilakukan.


Saya adalah seorang Ibu yang berusaha mengajarkan kejujuran kecil kepada keluarga dan anak-anak saya. Hal ini bertujuan agar kelak, anak saya menjadi pribadi yang jujur dan mampu menjadi salah satu pemimpin jujur di Negara ini.



[ KORBAN KETIDAKJUJURAN ]

Hampir setiap saat saya mengajarkan tentang kejujuran pada si kecil. Dimulai dari bertanya apakah sudah sering minum atau belum? Menanyakan di mana letak mainannya? Dll. 


Berharap si kecil menjadi pribadi yang jujur dalam bidang yang kelak ia geluti. Serta tidak mengorbankan orang lain dari ketidakjujuran yang terjadi. 


Hal ini berawal saat ketidakjujuran menimpa saya selaku orang yang selalu berusaha untuk jujur. Cerita ini tepatnya di tahun 2014 lalu, saat saya mengikuti test Calon Pegawai Negeri Sipil di daerah saya. 


Berdasarkan pengajaran orang tua bahwa persiapan yang matang akan menjadikan pemenang dalam test apapun. Di samping itu, orang tua saya selalu berpesan agar berusaha jujur dalam mengikuti ujian. 


Untuk test lokal hanya 2 (dua) orang yang lulus verifikasi. Jadi, saingan saya hanya 1 (satu) orang. Ujian Calon Pegawai Negeri Sipil pun dijalani. Berdasarkan hasil keputusan Pusat (Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi) bahwa saya menjadi pemenang dalam Ujian CPNS tersebut.


Nilai yang saya miliki terpaut jauh dengan peserta ujian lainnya. Namun, pemerintah daerah melakukan ujian kedua. Di mana ujian kedua ini seharusnya tidak dapat dilaksanakan kembali berdasarkan Surat Edaran MENPAN-RB No.B/5466/M/PAN-RB/12/2014. Dalam hal ini, pemerintah daerah sudah melanggar ketentuan.



Kembali dengan hati ikhlas harus mengikuti kembali ujian dari daerah. Menurut panitia BKD (Badan Kepegawaian Daerah) bahwa hasil ujian akan langsung diumumkan pada hari yang sama. Namun, ketidakjujuran dimulai saat pengumuman ujian dilakukan hampir 4 (empat) bulan kemudian.  


Setelah harap cemas dalam penantian, sudah terdengar berita tentang penyuapan/sogokan untuk menjadi seorang CPNS harus menyediakan dana sebesar Rp250 Juta. Sebagai orang yang selalu berpegangan pada kejujuran, saya selalu berusaha untuk tenang dan menanti hasil pengumuman.


Saat pengumuman melalui website pemerintah kabupaten, ternyata yang menjadi pemenang ujian CPNS adalah saingan yang nilai awal terpaut sangat jauh dari saya. Di ujian daerah dia memenangkan ujian dengan nilai yang tidak rasional.

           Sumber : https://cpnsgate.wordpress.com

Saat itu, saya hanya bisa mengelus dada dan menarik nafas dalam-dalam. Tetap berkomitmen dalam hati bahwa kejujuran tidak dapat dibeli dengan apapun bahkan dengan sebuah jabatan yang dinamakan Pegawai Negeri Sipil. Kelak saya akan bangga berkata pada anak saya bahwa AKU ANAK JUJUR.


Oleh karena itu, saya terus mengajarkan kepada anak-anak, ketika kejujuran sudah melekat menjadi karakter maka kejujuran tidak dapat dibeli dengan apapun. 


Dewasa ini, kejujuran menjadi barang langka. Kasus suap menjadi hal yang tidak tabu lagi untuk dipertontonkan. Banyak orang yang sudah terlibat dalam lingkaran tersebut. Sebagai orang yang takut akan Pencipta, saya tetap berusaha menegakkan kejujuran karena hanya dengan kejujuran Negara ini akan menjadi jauh lebih baik.


Hal kecil yang saya lakukan dengan bersikap jujur dalam ujian CPNS, tidak melakukan suap, tidak melakukan kecurangan dalam ujian, saya yakin akan berdampak besar buat bangsa ini. Dimulai dari contoh yang saya ajarkan kepada anak-anak saya. 


Alangkah indahnya, ketika setiap keluarga menanamkan nilai kejujuran pada anak-anaknya. Sehingga akan menjadi efek domino yang baik untuk bibit-bibit bangsa di masa yang akan datang. 


[ SAYA JUJUR, ANAK-ANAK SAYA PUN! ]

Tugas terberat yang dihadapi saat ini adalah bukan membuktikan ketidakjujuran seseorang, akan tetapi bagaimana meneruskan generasi jujur di dalam keluarga.


Saat si kecil berumur 1,5 tahun, saya sudah mengajarkan tentang berbagi. Ketika umurnya terus bertambah, saya mengajarkan bagaimana dia tulus dan jujur dalam bersikap.


Suatu kali, si kecil pernah mengambil mainan temannya. Dengan nada lembut dan penuh kasih, saya bertanya siapa pemilik mainan tersebut? Akhirnya si kecil jujur dan mengembalikan mainan tersebut.


Dengan kejujuran kecil kita dapat mengubah bangsa yang besar. Mari mendidik anak kita dengan kejujuran agar kelak bukan menjadi salah satu pelaku ketidakjujuran di negeri ini.





Salam kejujuran,



Mama Kinata


2 komentar:

  1. Paling tidak kita tidak terjebak untuk tidak jujur mbak, bila PNS diterima karena nyogok...seluruh uang hasil kerjanya jadi haram karena awalnya sudah haram...begitu kata orang-orang.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Mba.... setuju banget :)

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.

BP

WB

KEB